Kamis, 21 April 2011

Kutipan Novel

Kutipan Novel ”Catatan Diantara Kitab Cinta”

Ipung. Laki-laki yang sempat membuat aku jatuh cinta itu bernama Ipung. Satu-satunya laki-laki yang mengajakku menikah. Satu-satunya laki-laki yang mampu membuat aku merasa menjadi wanita terbaik di dunia. Tapi sekarang aku tidak tahu ada dimana dia.
“Ibuku mau menikah dengan Om Arya. Kata ibuku, Om Arya orangnya baik, jadi ibu memutuskan untuk menikah dengannya”. Suara itu membuatku terpelanting jauh kembali ke masa lalu. Tubuhku seperti menciut. Organ-organnya seperti terlempar oleh tendangan mesin waktu yang membawaku ke masa itu. Masa dimana seorang laki-laki cilik berusia sekitar enam tahunan berjalan pelan di sampingku. Aku berusaha mengimbangi langkah lelaki cilik itu. Dan kaki kecilku yang terbungkus sepatu lucu berwarna-warni, tampak sibuk mengikuti langkah kakinya.
“Xa, kamu temanku yang paling baik. Kamu selalu membela aku saat aku dihukum Bu guru. Aku tahu, aku ini anak yang bandel, tapi aku tidak tahu kenapa ada orang baik seperti kamu yang mau membela anak bandel seperti aku!”
Aku hanya tersenyum waktu itu. Senyumku memang masih terlihat imut untuk ukuran gadis berusia enam tahun. Ya, itu adalah senyumku sebagai anak SD yang tidak mengerti kenapa anak seusia Ipung tampak berpikiran dewasa. Entahlah! Yang aku tahu, ada sebuah kalimat pendeknya yang tidak akan pernah bisa aku lupakan,
“Kamu mau nggak, nikah sama aku?”
Matanya entah menjatuhkan pandangan ke arah mana, yang jelas terlihat dari bibir lelaki cilik itu hanya gerakan-gerakan lucu yang membuatku tak bisa menahan senyum saat mengingatnya. “Kata Ibuku, dia menikah dengan Om Arya karena Om Arya adalah orang baik. Nah, kamu kan selama ini baik banget ke aku, jadi aku ingin menikah sama kamu, Xa!!”
Sekali lagi aku tersenyum. Dan aku hanya bisa diam, sampai akhirnya dia mengalihkan topik pembicaraan.
Aku masih tak habis pikir, darimana dia menemukan kalimat-kalimat seperti itu? Jangan-jangan dia menirukan dialog dari salah satu scene film atau sinetron yang tidak terklasifikasi dengan baik. Aku tahu, bahkan hapal benar judul-judul sinetron dewasa dalam usiaku yang keenam. Hal itu tidak aneh, karena memang sinetron-sinetron dewasa banyak yang diputar tanpa memperhatikan waktu. Akhirnya anak-anaklah yang terkena dampaknya. Mereka dewasa sebelum waktunya. Dan aku adalah salah satu dari jutaan anak-anak yang merasa dewasa sebelum waktunya. Lalu aku menyebutnya Jatuh Cinta. Ya, aku jatuh cinta pada lelaki cilik itu, walaupun aku sendiri tidak pernah tahu, waktu itu, tentang arti cinta yang sering aku agung-agungkan. Aku hanya tahu, bahwa cinta adalah seperti apa yang diajarkan oleh sinetron. Hmp… Entahlah!
Satu bulan setelah itu, Ipung bersama Ibunya, diajak pindah ke Palembang oleh ayah barunya. Palembang memang kota kelahiran ayah barunya itu. Dan sejak saat itu pula aku tidak pernah menemuinya lagi.
Hingga hari ini. Diantara bingkai jendela ini. Diantara suara kumbang pohon dan binatang malam lain yang membuat aku kembali ke masaku yang sesungguhnya. Ke masa dimana aku termangu diantara suara dengkuran Lyan. Hmp… enaknya bisa terlelap semudah itu.

Diambil dari Novel CATATAN DIANTARA KITAB CINTA by Saeful Nurdin @ 2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar