Minggu, 16 Oktober 2011

Teori etika bisnis

1.Etika teologi
Terdapat perdebatan mengenai posisi etika filosofis dan etika teologis di dalam ranah etika.[rujukan?] Sepanjang sejarah pertemuan antara kedua etika ini, ada tiga jawaban menonjol yang dikemukakan mengenai pertanyaan di atas, yaitu:[8]

Revisionisme[rujukan?]

Tanggapan ini berasal dari Augustinus (354-430) yang menyatakan bahwa etika teologis bertugas untuk merevisi, yaitu mengoreksi dan memperbaiki etika filosofis.

Sintesis[rujukan?]

Jawaban ini dikemukakan oleh Thomas Aquinas (1225-1274) yang menyintesiskan etika filosofis dan etika teologis sedemikian rupa, hingga kedua jenis etika ini, dengan mempertahankan identitas masing-masing, menjadi suatu entitas baru. Hasilnya adalah etika filosofis menjadi lapisan bawah yang bersifat umum, sedangkan etika teologis menjadi lapisan atas yang bersifat khusus.

Diaparalelisme[rujukan?]

Jawaban ini diberikan oleh F.E.D. Schleiermacher (1768-1834) yang menganggap etika teologis dan etika filosofis sebagai gejala-gejala yang sejajar. Hal tersebut dapat diumpamakan seperti sepasang rel kereta api yang sejajar.

Mengenai pandangan-pandangan di atas, ada beberapa keberatan. Mengenai pandangan Augustinus, dapat dilihat dengan jelas bahwa etika filosofis tidak dihormati setingkat dengan etika teologis.[rujukan?] Terhadap pandangan Thomas Aquinas, kritik yang dilancarkan juga sama yaitu belum dihormatinya etika filosofis yang setara dengan etika teologis, walaupun kedudukan etika filosofis telah diperkuat.[rujukan?] Terakhir, terhadap pandangan Schleiermacher, diberikan kritik bahwa meskipun keduanya telah dianggap setingkat namun belum ada pertemuan di antara mereka.[9]

Ada pendapat lain yang menyatakan perlunya suatu hubungan yang dialogis antara keduanya.[10] Dengan hubungan dialogis ini maka relasi keduanya dapat terjalin dan bukan hanya saling menatap dari dua horizon yang paralel saja.[rujukan?] Selanjutnya diharapkan dari hubungan yang dialogis ini dapat dicapai suatu tujuan bersama yang mulia, yaitu membantu manusia dalam bagaimana ia seharusnya hidup.

2. Egoisme etis

Perbedaan antara Egoisme Psikologis dan Egoisme Etis adalah bahwa Egoisme Psikologis berbicara tentang sifat perbuatan manusia, sedangkan Egoisme Etis berbicara tentang bagaimana seharusnya kita berbuat. Egoisme Etis adalah sebuah teori normatif yang menyatakan bahwa tiap orang harus mencari kebahagiaan dan pemuasaan egonya masing-masing.
Ada tiga argumen yang mendukung Egoisme Etis.

2.1 Setiap manusia paling tahu tentang kemampuan dan keinginan dirinya. Tindakan seseorang menolong orang lain seringkali justru berakhir dengan menambah beban orang yang hendak ditolongnya. Oleh sebab itu, kebijakan ‘peduli pada orang lain’ adalah menipu diri. Dalam kata2 Robert G. Olson, ‘The individual is most likely to contribute to social betterment by rationally pursuing his own best long-range interests’. Tapi, dalam kenyataannya, argumen ini tidak mendukung Egoisme Etis, sebab argumen ini hanya berujung dengan kesimpulan bahwa tiap orang harus memiliki kebijakan tertentu menyangkut tindakan2nya. Dengan demikian, semua kebijakan rasional yang kita lakukan pada gilirannya akan memberikan manfaat buat tiap orang. Artinya, kebijakan2 itu bukan semata-mata egoistis. Langkah2 kita pun pada puncaknya bertujuan demi kebaikan dan kemaslahatan bersama.

2.2 Egoisme Etis berpijak pada realitas tiap individual, kata Ayn Rand, yang banyak terkikis akibat ajakan kepada altruisme. Inti argumen ini: karena manusia hanya punya satu kehidupan yang paling berharga, sementara altruisme adakalanya membuat satu kehidupan yang paling berharga itu harus dikorbankan demi orang lain, Egoisme Etis berupaya mengembalikannya pada posisi puncaknya seperti semula. Namun, argumen ini memiliki cacat besar, karena altruisme bukan saja tidak menganggap kehidupan individual sebagai tidak berharga atau patut dikorbankan setiap kali ada kesempatan untuk itu, melainkan altruisme sangat menghargai kehidupan individual sehingga pengorbanannya membuahkan tindakan moral yang sangat tinggi atau demi tujuan yang lebih tinggi daripada harga kehidupan individual tersebut.

2.3 Egoisme Etis menyatakan bahwa kita harus memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan oleh orang lain. Ini barangkali merupakan argumen terbaik untuk mendukung Egoisme Etis. Tapi, argumen ini tidak menggugurkan kemungkinan alasan lain di balik tindakan altruistik seseorang kepada orang lain. Banyak orang yang berbuat untuk orang lain bukan semata-mata berangkat dari motif agar orang memperlakukan dirinya dengan cara yang sama, melainkan juga demi alasan2 lain. Padahal, argumen ini benar bila hanya inilah satu-satunya alasan orang harus berbuat baik kepada sesama manusia.

Ada tiga argumen bantahan untuk Egoisme Etis.

1 Egoisme Etis tidak bisa memberikan solusi dalam kasus2 yang mengandung konflik kepentingan. Tapi, kaum egois etis dapat menyatakan bahwa hidup adalah serangkaian konflik kepentingan, agar tiap manusia berjuang untuk mencapai puncak.

3.2 Egoisme Etis berujung pada kontradiksi, sebab satu perbuatan yang seharusnya dilakukan untuk kebaikan diri seseorang adakalnya merupakan perbuatan sama yang seharusnya dicegah oleh orang lain. Padahal, Egoisme Etis menyatakan bahwa tiap individu haru melakukan apa yang terbaik untuk dirinya, sehingga mengakibatkan terjadinya kontradiksi antara satu tindakan moral yang sama-sama baik oleh dua individu yang bertentangan. Namun, para pendukung bisa menyatakan bahwa Egoisme Etis tidak menyalahkan pelaku A yang hendak mencegah perbuatan pelaku B yang bisa merugikan A. Dengan demikian, kontradiksi itu terhapuskan.

3.3 Bantahan ketiga atas Egoisme Etis sama dengan bantahan yang umum diberikan atas rasisme atau zionisme. Kaum rasis menyatakan bahwa di dunia ini ada dua kelompok manusia: pertama, ras A; dan kedua, ras B. Lalu, kedua ras ini seharusnya diperlakukan secara berbeda. Padahal, apabila kita melihat secara objektif kedua ras itu tidak memiliki perbedaan yang menjadikan salah satunya harus diperlakukan dengan lebih baik. Demikian pula halnya dengan Egoisme Etis yang menuntut pembedaan antara diri sendiri dan semua manusia lain. Padahal, kecuali memang berbeda, diri sendiri dan manusia yang lain itu tidak berbeda. Jadi, pembedaan yang diberikan itu murni merupakan argumen arbitrer yang tidak bisa diterima. ‘We should care about the interests of other people for the same reason we care about our own interests; for their needs and desires are comparable to our own’.

3.utilitarisme

Secara estimologi, “utilitarisme’ berasal dari kata utilisdalam bahasa latin yang berarti berguna atau berfaedah. Menurut utilitarisme, sesuatu perbuatan atau tindakan adalah baik jikalau tindakan tersebut bermanfaat atau berguna. Pada tataran ini gagasan atau ajaran utilitarisme persis menyentuh situasi konkret manusia, yakni kondisi riil manusia pada saat yang menghadapi berbagai alternatif atau kemungkinan untuk bertindak atau kondisi dimana manusia harus memilih alternatif tindakan manakah yang semestinya didahulukan dan manakah yang seharusnya ditunda.

Sebagai teori etika, utilitarisme sering juga disebut the greatest happiness theory atau teori kebahagiaan terbesar. Sebagai patokan dapat dipegang teguh prinsip utilitarisme tindakan: “Bertindaklah sedemikian rupa sehingga tindakanmu itu menghasilkan kebaikan terbesar bagi sebanyak mungkin orang.” Sementara prinsip yang berlaku untuk utilitarisme peraturan : “Bertindaklah menurut peraturan yang pelaksanaannya akan menghasilkan kebaikan atau kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin orang.” Di sini jelas sasaran bidik utilitarisme adalah tujuan dari tindakan yang mau dilakukan atau peraturan yang mau dipatuhi. Maksudnya suatu tindakan adalah baik secara moral jika menghasilkan kebaikan atau kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin orang yang terkena dampak dari tindakan tersebut.

Menurut Jeremy Bentham, dapat dikatakan bahwa pengukuran atau perhitungan suatu tindakan akan menghasilkan saldo positif (kebahagiaan), jika kredit (kesenangan), melebihi debetnya (rasa sakit). Tetapi bagi Stuart Mill, lebih baik menjadi manusia yang tidak puas daripada menjadi seekor babi yang puas, lebih baik menjadi Socrates yang tidak puas daripada seorang tolol yang puas. Lalu Stuart Mill juga menegaskan “Everybody to count for one, nobody to count for more than one.” Dengan penegasan itu Stuart mau menggarisbawahi kebahagiaan masing-masing atau kebahagiaan semua orang yang terlibat dalam suatu kejadian harus

4.deontologi
Deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarati apa yang harus dilakukan, kewajiban. Pemikiran ini dikembangkan oleh filosof Jerman,Immanuel Kant (1724-1804). Sistem etika selama ini yang menekankan akibat sebagai ukuran keabsahan tindakan moral dikritik habis-habisan oleh Kant. Kant memulai suatu pemikiran baru dalam bidang etika dimana ia melihat tindakan manusia absah secara moral apabila tindakan tersebut dilakukan berdasarkan kewajiban (duty) dan bukan akibat. Menurut Kant, tindakan yang terkesan baik bisa bergeser secara moral apabila dilakukan bukan berdasarkan rasa kewajiban melainkan pamrih yang dihasilkan. Perbuatan dinilai baik apabila dia dilakukan semata-mata karena hormat terhadap hukum moral, yaitu kewajiban.

Kant membedakan antara imperatif kategoris dan imperatif hipotetis sebagai dua perintah moral yang berbeda. Imperatif kategoris merupakan perintah tak bersyarat yang mewajibkan begitu saja suatu tindakan moral sedangkan imperatif hipotesis selalu mengikutsertakan struktur “jika.. maka.. “.

Kant menganggap imperatif hipotetis lemah secara moral karena yang baik direduksi pada akibatnya saja sehingga manusia sebagai pelaku moral tidak otonom (manusia bertindak semata-mata berdasarkan akibat perbuatannya saja). Otonomi manusia hanya dimungkinkan apabila manusia bertindak sesuai dengan imperatif kategoris yang mewajibkan tanpa syarat apapun. Perintah yang berbunyi “lakukanlah” (du sollst!). Imperatif kategoris menjiwai semua perbuatan moral seperti janji harus ditepai, barang pinjaman harus dikembalikan dan lain sebagainya. Imperatif kategoris bersifat otonom (manusia menentukan dirinya sendiri) sedangkan imperati hipotetis bersifat heteronom (manusia membiarkan diri ditentukan oleh faktor dari luar seperti kecenderungan dan emosi).

Berkenaan dengan pemikiran deontologinya, Kant mengemukakan duktum moralnya yang cukup terkenal: “bertindaklah sehingga maxim (prinsip) dari kehendakmu dapat selalu, pada saat yang sama, diberlakukan sebagai prinsip yang menciptakan hukum universal. Contoh tindalah moral “jangan membunuh” adalahbesar secara etis karena pada saat yang sama dapat diunverasalisasikan menjadi prinsip umum, (berlaku untuk semua orang dimana saja kapan saja).

sumber google

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar